Anaku Sebenarnya Anak Siapa?

Paparan berikut murni ungkapan pikiran dan perasaanku semata. Tidak bermaksud menghakimi/mendiskreditkan seseorang/golongan tertentu.

Banyak ibu jaman sekarang yang memutuskan untuk fokus bekerja di luar rumah. Aq punya tetangga 2 keluarga. Kedua keluarga tersebut sama-sama memiliki anak cowok berusia 3 tahun. Aq sering menyebut anak keluarga 1 adalah anaknya si embak karena sebagian besar waktu anak (bahkan sampe malam karena si embak tidur di sana) adalah bersama si embak.. Si embak sering cerita kalo anak yang diasuhnya itu sukanya pengin tidur bareng dia. Ibu keluarga 1 berangkat kerja jam 7 pagi dan pulang ketika Adzan Maghrib. Kalo anak keluarga kedua sering kusebut anaknya neneknya karena sebagian besar waktu si anak adalah bersama neneknya. Aq sering takjub dengan stamina si nenek yang sanggup mengasuh cucunya seharian sejak cucunya masih bayi hingga sekarang yang sedang dalam usia aktif-aktifnya. Ibuku yang nemenin anakku selama maksimal 2 jam (ketika aq sedang sibuk bersih-bersih rumah) saja rasanya sangat capek seperti mengasuh seharian. Ibu dari keluarga kedua berangkat kerja sekitar jam 6.30 pagi sampai pulang malam sekitar jam 8.

Sebenarnya apa alasannya seorang ibu memutuskan untuk bekerja di luar rumah? Faktor ekonomi adalah alasan terbesar. Entah karena gaji suami tidak cukup atau si istri pengin punya uang sendiri. Ada juga faktor ambisi karir, aktualisasi diri, pengin eksis, agar punya banyak teman, ga betah kalo hanya diam di rumah (alasan yang tidak bisa kumengerti sampe sekarang). Alasan yang sering dikemukakan ibuku ketika menyuruh aq cari kerja di luar adalah agar aq tidak bergantung pada suami secara finansial, agar aq tidak sering minta uang suami karena aq punya pegangan uang sendiri. Aq bisanya hanya diam kalo dinasehati seperti itu. Tapi di dalam hati aq sebenarnya pengin bantah, emang apa salahnya kalo istri mengandalkan suami dalam hal finansial? Emang apa salahnya kalo istri sering minta uang suami? Alasan yang sama pasti digunakan ibuku ketika memutuskan untuk bekerja di luar rumah dan menyerahkan pengasuhan aku dan adikku pada pembantu. Aq bahkan ingat ketika usia SD aq sering tidur dengan si embak daripada dengan ibuku. Bahkan sampe sekarang pun ketika aq udah punya anak sendiri, aq masih merasa tidak bisa dekat dengan ibuku secara emosional, rasanya seperti ada ‘sesuatu’ diantara kami yang jadi penghalang kedekatan kami. Kalo harga seperti itu yang harus ditanggung anakku seandainya aq memutuskan untuk bekerja di luar rumah, aq ga jadi beli deh…

Aq tidak ingin anakku bernasib sama seperti aq yang tidak bisa dekat secara emosional pada ibuku. Untuk itulah aq memutuskan untuk fokus mengasuh anakku sendiri. Aq tidak ingin anakku menjadi anak orang lain. Aq tidak ingin mendengar anakku berkata ingin tidur dengan si embak daripada dengan aq. Membayangkan saja rasanya sudah pengin nangis.

Selain itu, aq pengin anak-anakku (InsyaAlloh) menjadi tokoh tingkat dunia yang menginspirasi dan bermanfaat bagi jutaan orang di planet ini. Untuk mewujudkan cita-cita itu, bagaimana mungkin aq mempercayakan pengasuhan anakku pada orang lain? Aq ga peduli kalo dikatakan keinginanku terlalu muluk-muluk. Bagiku, impian harus setinggi langit dalam hal apapun termasuk dalam mendidik anak.

Kalo ada ibu yang memutuskan untuk bekerja di luar rumah (dengan alasan apapun) ya terserah mereka. Semua orang punya cara berpikir dan pendapat masing-masing. Aq sangat menghargai itu. Aq cuma berharap bahwa semua ibu Indonesia benar-benar menyadari peran dan tanggung jawab seorang ibu. Pekerjaan atau apapun itu jangan sampai menjadikan para ibu tidak bisa dekat dengan anaknya. Kalo pun waktu yang ada begitu terbatas, maksimalkan kualitasnya. Ada seorang ibu (tetangga beda RT) bekerja sebagai PNS yang memiliki anak usia sekitar 3-4 tahun. Tiap pagi si ibu menyuapi anaknya sambil menemani bermain atau jalan-jalan. Sore hari, ibu dan anak tersebut sering lewat depan rumahku naik motor atau naik sepeda, entah kemana. Itu terjadi tiap hari. Aq bahkan pernah menganggap kalo si ibu adalah ibu rumah tangga. Aq baru tau ketika suatu hari jalan-jalan pagi bersama si kecil lewat depan rumahnya, aq liat si ibu sudah berpakaian seragam PNS lengkap sedang pamitan dengan anaknya. Itulah yang kusebut sebagai the real mom. Apapun dilakukan si ibu untuk bisa menghabiskan waktu bersama anaknya. Aq mengajak para ibu Indonesia supaya selalu berjuang untuk menjadi the real mom. Jangan sampe anak kita menjadi anak orang lain. Anak kita adalah buah hati kita, tanggung jawab kita (bersama suami tentu saja), bekal akhirat kita. Berjuanglah dengan usaha terbaik.

Semoga bermanfaat.

Posted on Juli 9, 2011, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s