BAGIKANLAH REJEKIMU PADA ORANG LAIN

Aq terpekur membaca ayat “Hendaklah orang yang memiliki kelapangan (rejeki) memberi nafkah sesuai dengan kelapangannya. Dan orang yang disempitkan rejekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Alloh kepadanya. Alloh tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Alloh berikan kepadanya. Alloh kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”

 

Menurut buku yang aq baca, tafsir ayat tersebut adalah bahwa setiap orang harus memperhatikan kebutuhan orang lain sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing.

 

Pada jumat terakhir di bulan Sya’ban, Rosululloh SAW menyampaikan sebuah khutbah yang intinya menasehatkan agar kita senantiasa memperhatikan orang lain. Barangsiapa mampu memberikan sesuatu pada orang lain, hendaklah melakukannya. Di tengah-tengah khutbah, seseorang berdiri seraya berkata “Wahai Rosululloh, bagaimana dengan mereka yang tidak mampu?” Beliau menjawab, “Berikanlah makan kepada mereka walaupun dengan sebutir kurma atau seteguk air.”

 

Ayat ini seperti sedang mengingatkan aq, dengan keras malah. Aq selama ini sangat perhitungan ketika mau berinfaq. Belum bisa berinfaq/bersedekah secara rutin, tergantung uang di kantong. Aq dulu menganggap kalo mau berinfaq/ bersedekah itu harus yang terbaik, harus dalam nominal yang besar, ya minimal Rp 100.000 lah. Kalo ga ada duit segitu ya mendingan ga usah aja. Tapi gilirannya punya uang segitu malah dibuat belanja, lupa diinfaqkan (nah lo!). Hal itu seringkali terjadi.

 

Suamiku rajin sekali kasih uang pada pengemis/pengamen, minimal Rp 200. Aq bilang “Bukannya kalo mau berinfaq tu yang banyak sekalian?”. Suamiku menjawab “Ya semampu kitalah, adanya berapa ya kita kasihkan.”

 

Ternyata suamiku benar. Alloh menyuruh hambaNya supaya memberikan sebagian rejekinya pada orang lain. Tidak hanya pada hambaNya yang kaya raya (lapang rejekinya) tapi juga pada hambaNya yang miskin (sempit rejekinya). Mentang-mentang miskin lalu penginnya dikasih melulu padahal wajib membagikan rejekinya juga.

 

Apakah kalian menyadari bahwa esensi agama Islam adalah mengajarkan tentang harga diri dengan tidak mengijinkan pemeluknya menjadi peminta-minta. Terutama harga diri kaum muslimin di hadapan kaum kafir. Tangan di atas adalah yang utama. Biarpun miskin tapi haram hukumnya kalo meminta-minta. Bagikanlah sebagian rejekimu pada orang lain, semampunya! Alloh telah menjanjikan akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.

Semoga bermanfaat.

 

Referensi: Mazhahiri, Husain.Membangun Surga dalam Rumah Tangga. 2007. Penerbit Cahaya: Jakarta Selatan

Posted on Agustus 14, 2011, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s